Wednesday, June 25, 2014



Cinta Ku 
(part one)

Cinta itu sederhana
Sebuah rasa yang dikirimkan tuhan untuk kita
Rasa di dalam hati yang sedetik saja bisa tumbuh
Rasa yang bisa datang dari sekejap pandangan mata
Rasa yang bisa datang dari keseringan berjumpa
Terkadang rasa  cinta juga butuh waktu lama
Cinta juga butuh beradaptasi
Terutama untuk lebih mengenal satu sama lain

Cinta itu sederhana
Kita mencintai tapi tak dicintai
Itu akan menghadirkan ketulusan yang sebenarnya

Kita dicintai tapi tak mencintai
Itu akan lebih mengajarkan kita tentang arti menghargai

Dan mungkin yang paling indah adalah
kita sama – sama mencintai
Disitulah akan banyak rasa, 
saling pengertian, saling percaya, dan 
memberi bentuk perhatian satu  sama lain

Dari segala bentuk cinta itu
semua pasti menghadirkan air mata
Namun diselanya pasti juga terdapat tawa

Saturday, June 21, 2014

"Dan Kamu . . ."

Kunang - kunang dengan cahaya indahnya
Semakin gelap akan semakin indah
Ku ulurkan untuk sekedar menyentuh cahayamu
Dan kamu
Kamu seperti nyala kuning itu
Hadir di tengah petangnya hati ku
Hadir di kala sendu ku
Aku yang saat itu berada ditengah ombak
Seakan terombang - ambing
Kamu yang mendekap ku
Mengajak ku lari dari ombak itu
Memberitahu kalau memang kamu lah penolong ku
Aku yang saat itu berdiri dihamparan luas
Lemah dan terseret oleh angin
Angin kencang yang menjerumuskan ku
Dalam lubang keputus asaan
Dan kamu
Kamu yang memelukku
Menggandeng ku untuk bangkit
Satu lagi
Aku yang saat itu berada diantara banyak cinta
Merasakan banyak kasih sayang
Memandangi banyak hal serta banyaknya pertimbangan
Dan kamu
Kamu yang memegang erat tangan ku
Meyakinkan hati ku
KAMU lah pilihan ku


Wahyu R.Mayangsari

"Setelah Hujan Pagi Itu" 

created By :

Wahyu R. Mayangsari :)

10 Mei 2014 pukul 13:15
Ingin rasanya aku memutar waktu, waktu yang dulu sebelum mengenal cinta, hanya mengenal cinta dari orang tua. Tapi apa mungkin itu bisa aku lakukan ? ah tidak, aku dan kalian yang membaca tulisan ini tidak bisa, memang tidak akan bisa, kita semua tahu kalau waktu itu terus berjalan.

Ingin rasanya aku kembali, kembali ke masa yang lalu, masa dimana masih ada Engkau disamping ku, masih ada Engkau yang memeluk ku, masih ada Engkau yang menemani hari - hari ku, yang selalu ada di setiap moment - moment terpenting ku, dan Engkau yang selalu berusaha membuatku bahagia. Semua itu bisa aku rasakan dimasa dulu, kala aku masih kecil, kala aku masih remaja. Iya remaja, waktu itu aku mengenal kamu dan aku mulai mengenal cinta, mulai merasakan rasa yang aneh dan bergejolak di dalam hati.

Kalau waktu itu aku tahu bagaimana rasanya menjadi dewasa, aku pasti tidak akan mau menjadi dewasa, aku ingin terus menikmati masa kecil dan remaja ku bersama Engkau "Bintang Hidup Ku", Bintang yang tidak hanya ada di langit waktu malam hari, tapi Bintang yang ada disisih ku di waktu apa pun. Semua yang indah itu seakan terasa berhenti, dan seakan aq tidak bisa merasakan keindahan lagi. Dan memang iya, setelah Hujan Pagi itu sampai hari ini aku belum bisa merasakan keindahan yang sesungguhnya.

Setelah Hujan Pagi itu, aku mulai di pertemukan dengan kedewasaan, mulai mengerti sebuah arti berkorban dan tidak lagi mementingkan ego. Mulai dihadapkan pada sebuah keputusan yang teramat berat untuk aku putuskan, sebuah pemikiran dewasa yang tidak semua gadis mempunyai pemikiran untuk memutuskan sesuatu seperti itu. Harus memutuskan suatu hal untuk kebahagiaan dan kebaikan bersama. Setelah Hujan Pagi itu, benar - benar aku merasakan kesendirian, benar - benar mengetahui mana yang nama nya Saudara, dan mana yang namanya Teman. Mereka semua mungkin menganggap aku masih sangat kecil untuk ikut - ikutan masalah seserius itu, tapi aku tahu, aku tahu semuanya, ada sedikit hak yang harus aku peroleh, dan nyatanya mereka tak peduli dengan ku. Hahaaha, aku diam dibalik tertawa ku,  aku diam dibalik tangis ku, aku diam dan yakin suatu saat aku bisa mempunyai itu semua atas usaha ku sendiri tanpa meminta kepada mereka. Satu lagi, aku diam dan membiarkan mereka menikmati kehidupannya saat ini, Bintang Hidup ku juga pasti mengetahui apa yang terjadi.

Aku tidak mau menjadi dewasa, tapi keadaan yang memaksa untuk aku menjadi dewasa, semua tindakan yang hendak dilakukan harus dipikir dengan logika dan secara logis, dan lagi - lagi tidak boleh mementingkan kesenangan ku sendiri. Menjadi dewasa itu beban, setiap tindakan dan perilaku akan dinilai oleh penonton, menjadi dewasa itu tanggungan, semakin banyak tangung jawab yang di pegang dan harus diselesaikan. Satu lagi, menjadi dewasa itu membingungkan, sesuatu yang belum saatnya aku pikirkan tapi harus menjadi beban pikiran ku dan memaksa aku untuk bisa menyelesaikannya, membingungkan memang, karena sebagian orang menilai aku masih seperti anak kecil, padahal sudah sangat banyak suatu hal yang menuntut aku untuk menjadi dewasa. Singkat saja “kedewasaan seseorang tidak harus dipaksakan, dan kedewasaan itu akan terlihat ketika dia menyikapi segala hal yang dihadapinya”

Dan disaat aku menjadi dewasa, aku tidak lagi melihat Engkau setiap aku membuka mata. Tapi cahayamu masih sangat bersinar diantara bintang – bintang itu, Engkau pasti menyaksikan jalan ku di dunia ini, Engkau tak ada lagi disisih ku tapi Engkau ada di hati ku, dan sampai kapan pun akan tetap di hati ku.
Aku bersikap lebih dewasa Setelah Hujan Pagi Itu, hanya diriku dan Tuhan yang tahu setiap langkah dan isi hati ini. Ah, menyebalkan, bosan, jenuh, ingin aku melawan, tapi ini sudah Takdir dari Sang Maha Hidup. Berharap dan berusaha untuk mewujudkan keindahan.
Setelah Hujan Pagi Itu, dan dari sekian panjangnya tulisan ku ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan, mungkin hanya bisa bernyanyi, bernyanyi dalam hati, hanya aku dan Tuhan yang mendengarnya.

"Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi

Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi"
"Rindu Sore Hari"
oleh : Wahyu R.Mayangsari

aku duduk disini
menyaksikan lembaran daun
tersapu oleh angin
sesekali debu menerpa pandanganku
Aku duduk disini sendiri
merasakan rindu sore hari
rindu berbeda yang teramat menggebu
rindu kepadamu
Aku disini bicara sendiri
kepada rumput itu
aku bercerita tentang kerinduan ku
tak peduli ilalang menertawaiku
Aku juga bertanya
bertanya kepada awan sore
kapan aku bisa duduk disini bersamanya
menyaksikan kebersamaan burung menari - nari
menyaksikan layang - layang terbang tinggi
Akupun bertanya kepda lembaian daun
kapan aku bisa duduk disini bersamanya
bercengkerama berdua
mewujudkan rasa rindu sore ini



"Dia Akan Tahu" 
Dia tidak pernah tahu
Tapi suatu saat dia akan tahu
Dia akan tahu
Kalau airmata ini untuknya
Senyum ini juga untuknya
Dia akan tahu
Kalau di sela penantian ini
Ada harapan bunga bermekaran
Kalau di sela kesabaran ini
Ada harapan pelangi akan semakin berwarna
Tuhan . . .
Ijnkan dia mengetahui
Mengetahui isi hati ku
Isi hati yang bertuliskan namanya
Ijinkan dia mengetahui
Mengetahui kehendakku
Yang ingin ku wujudkan bersamanya

Aku Menulis Untuknya

sebenarnya kita dekat
hanya saja tidak untuk sekarang
lalu kapan ?
entahlah . . .
untuk mu diseberang sana
jaga diri . . .
banyak yang menunggumu kembali
untuk mu yang tak pernah ku tatap parasnya
kamu akan melihat senyumku
karena aku akan tersenyum
melihat telapak kaki mu
berhenti sejenak di pintu gubuk itu
untuk kamu yang tak pernah ku dengar suaranya
jika suatu saat tak menjadi sepasang kekasih
hati ini tetap menerima mu
sebagai sahabat dibagian lingkaran hidup ku
sebagai seseorang yang menyayangi ku
untuk kamu yang hadir dalam maya ku
aku bisa merasakan sayang itu
aku bisa mendamba cinta itu
melalui bintang - bintang yang setiap malam menemani lamunan ku
untuk kamu yang sempat datang di mimpi ku
aku menunggu ucapan mu
ucapan diwaktu yang lalu
"aku akan pulang"
untuk kamu di negeri org melayu
satu pesan mu yg tk mgkin ku lupa
dan satu puisi ini yg aku tulis brsma airmta
untuk mu ...

Wahyu R.Mayangsari

Sunday, May 4, 2014

Selalu Kamu

Di segala gerak ku
Terbesit nama mu
Di setiap langkah ku
Terlintas wajah mu
Di kala pejaman mata ku
Tingginya hayal bersamamu
Di saat tangis ku
Itu karena mu
Di saat sedih ku
Juga karena mu
Kamu ada, kamu hadir, dan selalu kamu
Hati ini berteriak “Iya Kamu”
Tapi semua seakan terbantah oleh logika
Semua terasa terhenti
Tidak sekali ku sebut nama mu diantara kedua tangan ku
Sekedar memohon kepadaNya
Agar Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya
Tidak sekali ku minta kamu datang di mimpiku
Agar kamu juga merasakan apa yang aku rasa
Tidak sekali pula aku bergumam
“Aku Menunggumu”

Wahyu R. Mayangsari

Saturday, May 3, 2014

"Apa Kabar Cinta ?"
oleh : Wahyu .R Mayangsari

Apa kabar kasih ?

hari yang terus brgnti
tak pernah ku ketahui keadaan mu
jarum waktu berputar pelan
tak sedetikpun ku dengar suaramu
Apa kabar sayang ?
setiap matahari terbit
saat it pula ingin ku jumpai
wajahmu disela sinarnya
dikala fajar hendak beranjak
ingin ku kamu hadir dimalam ku
Apa kabar cinta ?
masih adakah aku diingatan mu ?
adakah sedikit rasa rindumu untuk ku ?
disini aku menunggumu dalam DIAM

Friday, February 21, 2014

Bersamamu Malam Itu

bercengkerama berdua
senda gurau tawa canda
bersandar di teras itu
gelap terasa terang
malam semakin indah

seakan tak mau ada hari esok
seakan ingin malam itu terus bersamamu
tapi mungkin
hanya rasa ini yg menggebu

seakan tak mau ada hari esok
karena esok kau tinggalkan aku disini
seakan terasa lama
takut tak kembali
takut tak kau temui aku lagi

pelukan itu . . .
berharap bukan pelukan terakhir
berharap akan ku rasa lagi nanti

genggaman tangan itu
semakin tak ingin terlepas
satu pinta ku malam itu
agar hatimu tetap terjaga untuk ku

Sampai Pada Akhirnya Ku Bicara

pernah kau berkata
"aku pulang untuk mu"
nyatanya itu tak untuk ku
kamu bersama si cantik
aku diam . . .
kamu bersama si manis
aku diam . . .
kamu bersama si seksi
aku diam . . .
melihat mu bersama mereka
aku tersenyum
tersenyum dibalik tirai pilu
melihatmu bersama mereka
aku bahagia
bahagia yang penuh kebohongan
dan sampai pada akhirnya
kamu tidak bersama mereka
kamu memilih kembali untuk ku
dan aku pun masih tetap diam
diam dengan segala airmata yang tak kau lihat
diam tanpa keputusan
dan tetap seperti biasanya
lantas . . .
lantas kapan bisa aku teriak
teriak diantara deretan tangis ini
deretan tangis yang aku rasakan
sakit memang iya
pedih apalagi
semua terasa kelu
berada dalam sudut kebimbangan
antara perasaan dan logika
dan pada akhirnya ku bicara
"hati ini dulu memang terisi namamu,
namun kini hati ini tidak untuk mu"

Saturday, February 8, 2014

My Dream, My Adventure, My Everything

Pagi buta ku buka mata.Bisa dikatakan sang surya masih tertidur atau mungkin masih menyinari jutaan insan didunia barat. Prepare segala sesuatunya.
Ku lingkarkan penunjuk waktu di tangan ku, yang pada dasarnya tidak bisa lepas dari barang itu. kutangkupkan jilbab orange di leher ku sekedar menutup sedikit aurat ini, agar selalu bersama Rabb ku. Tak lupa ku tarik switter abu – abu dari tumpukan pakaian usang yang cukup lama tak terjamah, sekedar memberi kehangatan dari tingginya derajat dingin yang nanti pasti aku sentuh.
Si hitam gendut,begitulah aku menjuluki motor pribadi ku. Sebelum benar – benar ku tancap,pelan – pelan ku putar gas yang notabennya selalu berada di setir kanan. KataPapi, “biar lebih enak melajunya”. Iya Papi, begitulah aku memanggil bapak ku.Ibu sama Papi, mereka yang membimbing aku untuk mencapai segalanya. Mungkintidak hanya aku, tapi kita semua. Kita semua berfikir secara fakta, sudah tidaklagi menjadi opini “kalau untuk mencapai segalanya tak luput dari peran orangtua”. Lantas bagaimana dengan sahabat, memang terkadang kita butuh hadirnyasosok sahabat. Oh my God, tidak terkadang lagi, tapi sering bahkan selalu butuhsahabat, teman ataupun soulmate.

Untuk mencapai itu dihari ini, hari dimana semua ingin ada kebahagiaan dan perubahan. Semua yangawam dan semua yang mengerti mengatakan kalau hari ini adalah hari sakral, akanada mara bahaya, aku pun juga percaya atas dasar sebuah buku yang sebelumnya aku baca, aku tetapcuek tapi senantiasa berdo’a agar Sang Maha Pelindung melindungi ku dan kitasemua tentunya. Ku jemput sahabat ku itu yang mungkin masih tertidur pulas diranjang nya, ha ha ha ternyata tidak, dia sudah cantik dan rapi dengandandanannya. Dikenakannya blazer coklat, jilbab coklat serta celana jeans terlihatlebih casual.

Aku dengan dia samadengan KITA. Keinginan kita sama, saat itupun aku berpacu pada pepatah“kesempatan tak datang dua kali” tak mau lagi menunda, tak mau lagi mengundurhari esok, akan ku wujudkan keinginan kita, akan ku buat kau bahagia bersamaku. Ceileeehh so swet, begitu mungkin anggapan remaja alay.
Papi sudah mulai injakpedal gigi, aku pun siap memutar roda pelek bintang ini. Sudah ku rasakanpegangan erat di pinggang ku dari kedua tangan sahabat ku itu. Si hitam gendut melaju denganidealnya, bentuk separuh bulan yang tadi terlihat samar – samar, kini benar –benar hilang karenamatahari sudah menampakkan sinarnya. Keramain kota sudah mulai menghadang mata,cukup lama tak ku pandangi kota Adipura seperti ini. Jarum spidometer mungkincapek bergerak naik turun, kurang lebih menunjuk ke arah 90, cukup kencang dantak permah ku lakukan sebelumnya. Mata terfokuskan pada hamparan jalan yangtiada ujung dan berjuta lalu lalang kendaraan lain, kedua tangan berpegang kuatdan mengatur stabilitas putaran gas. Hati, hhhhmmmmm hati juga ikutberpartisipasi, bahkan mempunyaikedudukan peran yang sangat penting, berkecumik memanjatkan do’a pada Sang MahaPelindung. Diiringi dengan guyonan – guyonan sesaat, gelegar tawa bersamasahabat ku itu seakan bercengkerama dengan suara bising.

Tibalah di sebuahperkampungan yang sangat asing bagiku, bahkan hati ku bergumam dengan emosijengkel melihat kerikil – kerikil tak beraturan, tidak sedikit lho, cukup lamaaku harus melaluinya. Di depan terlihat expresi bingung di wajah papi dan ibuku, jupiter merah hitam itu tiba – tiba berhenti di sebuah warung kecil.Dihadapnya bapak – bapak paruh baya, papi ku sedikit menyodorkan pertanyaanguna meyakinkan arah perjalanan, karena saat itu kita terjebak di perempatanyang tak tau harus lurus ataukah belok, belok ke kiri ataukah ke kanan. Welll??? muncul tanda tanya juga di otak ku. Ternyata masih lurus, dan aku kembalimelaju mengikuti arah angin yang berlawanan dengan arah motor ku. Helm unguyang aku kenakan sudah mulai mengencangkan kepala, terasa pusing dan inginsegera sampai. Huuuuh, masih butuh beberapa jam pikir ku.

Jeritan ceria beriringandengan laju motor yang semakin berat untuk berjalan, rasa kagum itu semakinmembahana, suara obrolan ku dengan sahabat ku yang tadinya terdengar biasa kinisedikit menggema, sejuk dan semakin dingin, semua itu ketika ku injak danberdiri di tengah paru – paru dunia, sebuah kuasa Tuhan yang tak cukup denganhanya di acungi jempol saja. Sedikitpun tak kusadari kalau jalan yang ku laluisemakin menanjak dan semakin butuh tenaga untuk memutar gas ini. Hijau,semuanya hijau, sebuah keindahan yang jarang terlihat oleh mata. Tinggi,semuanya tinggi, pepohonan itu menjulang, semakin tinggi semakin berdetak pulajantung ini, berdetak kencang ketika sedikit ku lirik kan mata ke bawah, akutidak tau apa yang akan terjadi kalau misalkan kedua tangan yang memegang setirini oleng sedikit saja. Mungkin akan terjatuh ke perosok jurang itu, oh tidakmungkin lagi, itu sudah pasti.

Wahyoe_Zhia
Beberapa pertanyaan wujudkhawatir dari sahabat ku mulai muncul. “yakin akan meneruskan perjalanan ini?Tidak capek? Di depan masih banyak jalan berkelok, di depan masih panjang dantanjakan semakin tinggi?” Celotehsahabat ku sembari mengencangkan pegangan tangannya di pinggang ku. Aku punmenanggapinya dengan santai, karena pikir ku, disini pengendarai bukan hanyaaku, kalau mas itu, bapak itu, bisa sampai sana, aku juga bisa sampai sana.“Tapi kamu cewek, lihat dari tadi yang megang setir cowok semua, dari tadi yangmendahului jalan kita cowok semua.” Celoteh sahabat ku lagi. Jalan yang sangatberkelok dan sempit itu memacu semangat ku untuk segera mencapainya. Kalau orang lain bisamelaluinya, kenapa aku tidak ?? Disela santainya
laju motor ku, ku jumpai beberapaorang aneh di penglihatan ku, sarung lebbar itu diikat di lehernya, tidak bedajauh dengan Jubah Merahnya Superman, hahaha, tapi mereka bukan Superman, merekaorang – orang yang masih hidup dalam suku, di daerah ini di kenal dengan SukuTengger.  Di depan mungkin Papi sama Ibu juga mengkhawatirkanku, karena tak sekali dua kali mereka menengok ke belakang sekedar melihat dantersenyum kepada ku yang masih enjoy menikmati perjalanan ini.

Kekompakan Papi sama Ibuyang mengenakan Switter Doreng Korps Marinir membuat aku mudah untuk memantauketika jarak perjalanan kita semakin jauh. Papi menghentikan laju motornya, akupun juga menurunkan kaki dari scooter matic ini. Tanda kita sampai. Bola hitamdi mata ku sedikit melirik ke penunjuk waktu yang melingkar di pergelangantangan ku, 5 jam aku bersahabat dengan jalan. Iya sampai, sampai tujuan yangmemang dari awal kita tuju “Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Senyumbahagia terpancar di paras Papi sama Ibuku, senyum sumringah juga terlihat dibibir sahabat ku. Hati ku terasa syahdu melihat mereka yang aku sayangi.Pelukan sederhana dengan sahabat ku, bisikan kata dari dia di telinga ku, menjadisebuah penghargaan yang tak ternilai, dua kata itu adalah “Wonder Woman”. Aku ingin teriak tapi tak bisa, bibir ini terasa kelu.Aku juga ingin berjingkrak tapi tak bisa, kaki ini terasa kaku, itu karenasaking bahagianya menatap hamparan alam yang nyata – nyata aku injak. Hawa dinginseakan menembus ke tulak rusuk paling dalam, aroma tembakau sudah terlihatmengepul dari bibir Papi ku.
Gagah,amat teramat gagah. Berdiri diatas daratan dan mengundang banyak decak kagum. Awanputih nan lembut itu mampu aku sentuh, hanya bisa menggelengkan kepala bisa mencapaipuncak ini. Dalam hati sempat bergumam, mungkin akan terasa lebih indah jika kucapainya dengan Pujaan Hati. Ya . . . . Pujaan Hati yang hingga kini tak tentuarah berlari – larian dalam pusara hati ku. Sekedar mengabadikan momen, potretsederhana Papi, Ibu sama sahabat ku semakin menunjukkan sebuah keluarga yangtiada tertandingi kebahagiannya. You Are My Everithing :*

Dari panjanglebbarnya cerita yang terurai, seperti itulah gambaran untuk mencapai mimpi,mecapai puncak keinginan kita,  mencapaikesuksesan, bahkan untuk mencapai segalanya. Semua membutuhkan pengorbanan danwaktu. Akan ada banyak hal yang menghadang di depan, banyak kerikil – kerikil tajamyang tetap harus kita lewati, banyak jalan berliku yang harus kita lalui, kalautidak hati – hati dalam mengambil keputusan, akan ada jurang yang membuat kitajatuh terperosok didalamnya, kita juga membutuhkan orang lain untuk sekedarbertanya. Tekad dan keyakinan sebagai peran utama. Dan tak lupa selalu ada orangtua dan sahabat yang senantiasa mendorong dan menemani kita.



Tuesday, February 4, 2014

Ayah, Aku ingin bercerita :)

4 Februari 2014 pukul 21:00

Di sudut kegelapan malam ini aq selalu bisa melihat senyum mu, senyum indah dimasalalu yg tak perna lekang oleh waktu, yg tak perna pudar oleh masa.

Ayah, sore ini aq berangkat ke suatu tempat. Ayah pasti ingat sekali dgn tempat ini. tempat dimana aq meraung kesakitan, menangis, bahkan menjerit. yg sampai sekarang masih sering aq rasakan. sebuah tempat dimana ayah menggendong ku, mendekapku, meyakinkan aq kalau semua itu tak akan terasa sakit. "rasanya seperti digigit semut" iya, it yg ayah katakan.

Aq takut dan mulai memejamkan mata agar tak terlihat semua benda itu, dan ketika benda tajam itu mulai bekerja, jerit sakit ku semakin kencang, salah satu alat berbunyi "ngiiiiiinnnnng . . ." itu yang paling aku takuti yah, ternyata rasanya melebihi digigit semut, setelah usai prosesnya, waktu itu Ayah tersenyum dan berkata "kamu pasti bisa melewati semua rasa sakit itu meski harus dengan menangis"

sore ini Lembok berada ditempat itu tanpa Ayah, aq pulang sama ibuk yah, diguyur hujan dibawah gelapnya langit. di Surga sana Ayah pasti mendengar ceritaku kan ???


miss u so much dad :*

Saturday, February 1, 2014

tinta hitam ini tiada henti

menyapu lembut


diatas lembaran putih


lembar demi lembar


penuh coretan sederhana


terbesit dalam lamunan


hadir Jalalludin Rumi

terkadang juga terlintas lewat


pujangga abadi sekelas Chairil Anwar


mereka seakan berbisik 


"kenapa tak kau bukukan saja? kenapa tak kau publikasikan karya2 itu?"


dan ketika bangun dari lamunan ku


tak sadar ku jawab tanya mereka


"Tidak, karna aku hanyalah PENULIS DIARY"