Bersamamu Malam Itu
bercengkerama berduasenda gurau tawa canda
bersandar di teras itu
gelap terasa terang
malam semakin indah
seakan tak mau ada hari esok
seakan ingin malam itu terus bersamamu
tapi mungkin
hanya rasa ini yg menggebu
seakan tak mau ada hari esok
karena esok kau tinggalkan aku disini
seakan terasa lama
takut tak kembali
takut tak kau temui aku lagi
pelukan itu . . .
berharap bukan pelukan terakhir
berharap akan ku rasa lagi nanti
genggaman tangan itu
semakin tak ingin terlepas
satu pinta ku malam itu
agar hatimu tetap terjaga untuk ku
Sampai Pada Akhirnya Ku Bicara
pernah kau berkata
"aku pulang untuk mu"
nyatanya itu tak untuk ku
kamu bersama si cantik
aku diam . . .
kamu bersama si manis
aku diam . . .
kamu bersama si seksi
aku diam . . .
melihat mu bersama mereka
aku tersenyum
tersenyum dibalik tirai pilu
melihatmu bersama mereka
aku bahagia
bahagia yang penuh kebohongan
dan sampai pada akhirnya
kamu tidak bersama mereka
kamu memilih kembali untuk ku
dan aku pun masih tetap diam
diam dengan segala airmata yang tak kau lihat
diam tanpa keputusan
dan tetap seperti biasanya
lantas . . .
lantas kapan bisa aku teriak
teriak diantara deretan tangis ini
deretan tangis yang aku rasakan
sakit memang iya
pedih apalagi
semua terasa kelu
berada dalam sudut kebimbangan
antara perasaan dan logika
dan pada akhirnya ku bicara
"hati ini dulu memang terisi namamu,
namun kini hati ini tidak untuk mu"
"aku pulang untuk mu"
nyatanya itu tak untuk ku
kamu bersama si cantik
aku diam . . .
kamu bersama si manis
aku diam . . .
kamu bersama si seksi
aku diam . . .
melihat mu bersama mereka
aku tersenyum
tersenyum dibalik tirai pilu
melihatmu bersama mereka
aku bahagia
bahagia yang penuh kebohongan
dan sampai pada akhirnya
kamu tidak bersama mereka
kamu memilih kembali untuk ku
dan aku pun masih tetap diam
diam dengan segala airmata yang tak kau lihat
diam tanpa keputusan
dan tetap seperti biasanya
lantas . . .
lantas kapan bisa aku teriak
teriak diantara deretan tangis ini
deretan tangis yang aku rasakan
sakit memang iya
pedih apalagi
semua terasa kelu
berada dalam sudut kebimbangan
antara perasaan dan logika
dan pada akhirnya ku bicara
"hati ini dulu memang terisi namamu,
namun kini hati ini tidak untuk mu"
No comments:
Post a Comment