Saturday, February 8, 2014

My Dream, My Adventure, My Everything

Pagi buta ku buka mata.Bisa dikatakan sang surya masih tertidur atau mungkin masih menyinari jutaan insan didunia barat. Prepare segala sesuatunya.
Ku lingkarkan penunjuk waktu di tangan ku, yang pada dasarnya tidak bisa lepas dari barang itu. kutangkupkan jilbab orange di leher ku sekedar menutup sedikit aurat ini, agar selalu bersama Rabb ku. Tak lupa ku tarik switter abu – abu dari tumpukan pakaian usang yang cukup lama tak terjamah, sekedar memberi kehangatan dari tingginya derajat dingin yang nanti pasti aku sentuh.
Si hitam gendut,begitulah aku menjuluki motor pribadi ku. Sebelum benar – benar ku tancap,pelan – pelan ku putar gas yang notabennya selalu berada di setir kanan. KataPapi, “biar lebih enak melajunya”. Iya Papi, begitulah aku memanggil bapak ku.Ibu sama Papi, mereka yang membimbing aku untuk mencapai segalanya. Mungkintidak hanya aku, tapi kita semua. Kita semua berfikir secara fakta, sudah tidaklagi menjadi opini “kalau untuk mencapai segalanya tak luput dari peran orangtua”. Lantas bagaimana dengan sahabat, memang terkadang kita butuh hadirnyasosok sahabat. Oh my God, tidak terkadang lagi, tapi sering bahkan selalu butuhsahabat, teman ataupun soulmate.

Untuk mencapai itu dihari ini, hari dimana semua ingin ada kebahagiaan dan perubahan. Semua yangawam dan semua yang mengerti mengatakan kalau hari ini adalah hari sakral, akanada mara bahaya, aku pun juga percaya atas dasar sebuah buku yang sebelumnya aku baca, aku tetapcuek tapi senantiasa berdo’a agar Sang Maha Pelindung melindungi ku dan kitasemua tentunya. Ku jemput sahabat ku itu yang mungkin masih tertidur pulas diranjang nya, ha ha ha ternyata tidak, dia sudah cantik dan rapi dengandandanannya. Dikenakannya blazer coklat, jilbab coklat serta celana jeans terlihatlebih casual.

Aku dengan dia samadengan KITA. Keinginan kita sama, saat itupun aku berpacu pada pepatah“kesempatan tak datang dua kali” tak mau lagi menunda, tak mau lagi mengundurhari esok, akan ku wujudkan keinginan kita, akan ku buat kau bahagia bersamaku. Ceileeehh so swet, begitu mungkin anggapan remaja alay.
Papi sudah mulai injakpedal gigi, aku pun siap memutar roda pelek bintang ini. Sudah ku rasakanpegangan erat di pinggang ku dari kedua tangan sahabat ku itu. Si hitam gendut melaju denganidealnya, bentuk separuh bulan yang tadi terlihat samar – samar, kini benar –benar hilang karenamatahari sudah menampakkan sinarnya. Keramain kota sudah mulai menghadang mata,cukup lama tak ku pandangi kota Adipura seperti ini. Jarum spidometer mungkincapek bergerak naik turun, kurang lebih menunjuk ke arah 90, cukup kencang dantak permah ku lakukan sebelumnya. Mata terfokuskan pada hamparan jalan yangtiada ujung dan berjuta lalu lalang kendaraan lain, kedua tangan berpegang kuatdan mengatur stabilitas putaran gas. Hati, hhhhmmmmm hati juga ikutberpartisipasi, bahkan mempunyaikedudukan peran yang sangat penting, berkecumik memanjatkan do’a pada Sang MahaPelindung. Diiringi dengan guyonan – guyonan sesaat, gelegar tawa bersamasahabat ku itu seakan bercengkerama dengan suara bising.

Tibalah di sebuahperkampungan yang sangat asing bagiku, bahkan hati ku bergumam dengan emosijengkel melihat kerikil – kerikil tak beraturan, tidak sedikit lho, cukup lamaaku harus melaluinya. Di depan terlihat expresi bingung di wajah papi dan ibuku, jupiter merah hitam itu tiba – tiba berhenti di sebuah warung kecil.Dihadapnya bapak – bapak paruh baya, papi ku sedikit menyodorkan pertanyaanguna meyakinkan arah perjalanan, karena saat itu kita terjebak di perempatanyang tak tau harus lurus ataukah belok, belok ke kiri ataukah ke kanan. Welll??? muncul tanda tanya juga di otak ku. Ternyata masih lurus, dan aku kembalimelaju mengikuti arah angin yang berlawanan dengan arah motor ku. Helm unguyang aku kenakan sudah mulai mengencangkan kepala, terasa pusing dan inginsegera sampai. Huuuuh, masih butuh beberapa jam pikir ku.

Jeritan ceria beriringandengan laju motor yang semakin berat untuk berjalan, rasa kagum itu semakinmembahana, suara obrolan ku dengan sahabat ku yang tadinya terdengar biasa kinisedikit menggema, sejuk dan semakin dingin, semua itu ketika ku injak danberdiri di tengah paru – paru dunia, sebuah kuasa Tuhan yang tak cukup denganhanya di acungi jempol saja. Sedikitpun tak kusadari kalau jalan yang ku laluisemakin menanjak dan semakin butuh tenaga untuk memutar gas ini. Hijau,semuanya hijau, sebuah keindahan yang jarang terlihat oleh mata. Tinggi,semuanya tinggi, pepohonan itu menjulang, semakin tinggi semakin berdetak pulajantung ini, berdetak kencang ketika sedikit ku lirik kan mata ke bawah, akutidak tau apa yang akan terjadi kalau misalkan kedua tangan yang memegang setirini oleng sedikit saja. Mungkin akan terjatuh ke perosok jurang itu, oh tidakmungkin lagi, itu sudah pasti.

Wahyoe_Zhia
Beberapa pertanyaan wujudkhawatir dari sahabat ku mulai muncul. “yakin akan meneruskan perjalanan ini?Tidak capek? Di depan masih banyak jalan berkelok, di depan masih panjang dantanjakan semakin tinggi?” Celotehsahabat ku sembari mengencangkan pegangan tangannya di pinggang ku. Aku punmenanggapinya dengan santai, karena pikir ku, disini pengendarai bukan hanyaaku, kalau mas itu, bapak itu, bisa sampai sana, aku juga bisa sampai sana.“Tapi kamu cewek, lihat dari tadi yang megang setir cowok semua, dari tadi yangmendahului jalan kita cowok semua.” Celoteh sahabat ku lagi. Jalan yang sangatberkelok dan sempit itu memacu semangat ku untuk segera mencapainya. Kalau orang lain bisamelaluinya, kenapa aku tidak ?? Disela santainya
laju motor ku, ku jumpai beberapaorang aneh di penglihatan ku, sarung lebbar itu diikat di lehernya, tidak bedajauh dengan Jubah Merahnya Superman, hahaha, tapi mereka bukan Superman, merekaorang – orang yang masih hidup dalam suku, di daerah ini di kenal dengan SukuTengger.  Di depan mungkin Papi sama Ibu juga mengkhawatirkanku, karena tak sekali dua kali mereka menengok ke belakang sekedar melihat dantersenyum kepada ku yang masih enjoy menikmati perjalanan ini.

Kekompakan Papi sama Ibuyang mengenakan Switter Doreng Korps Marinir membuat aku mudah untuk memantauketika jarak perjalanan kita semakin jauh. Papi menghentikan laju motornya, akupun juga menurunkan kaki dari scooter matic ini. Tanda kita sampai. Bola hitamdi mata ku sedikit melirik ke penunjuk waktu yang melingkar di pergelangantangan ku, 5 jam aku bersahabat dengan jalan. Iya sampai, sampai tujuan yangmemang dari awal kita tuju “Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Senyumbahagia terpancar di paras Papi sama Ibuku, senyum sumringah juga terlihat dibibir sahabat ku. Hati ku terasa syahdu melihat mereka yang aku sayangi.Pelukan sederhana dengan sahabat ku, bisikan kata dari dia di telinga ku, menjadisebuah penghargaan yang tak ternilai, dua kata itu adalah “Wonder Woman”. Aku ingin teriak tapi tak bisa, bibir ini terasa kelu.Aku juga ingin berjingkrak tapi tak bisa, kaki ini terasa kaku, itu karenasaking bahagianya menatap hamparan alam yang nyata – nyata aku injak. Hawa dinginseakan menembus ke tulak rusuk paling dalam, aroma tembakau sudah terlihatmengepul dari bibir Papi ku.
Gagah,amat teramat gagah. Berdiri diatas daratan dan mengundang banyak decak kagum. Awanputih nan lembut itu mampu aku sentuh, hanya bisa menggelengkan kepala bisa mencapaipuncak ini. Dalam hati sempat bergumam, mungkin akan terasa lebih indah jika kucapainya dengan Pujaan Hati. Ya . . . . Pujaan Hati yang hingga kini tak tentuarah berlari – larian dalam pusara hati ku. Sekedar mengabadikan momen, potretsederhana Papi, Ibu sama sahabat ku semakin menunjukkan sebuah keluarga yangtiada tertandingi kebahagiannya. You Are My Everithing :*

Dari panjanglebbarnya cerita yang terurai, seperti itulah gambaran untuk mencapai mimpi,mecapai puncak keinginan kita,  mencapaikesuksesan, bahkan untuk mencapai segalanya. Semua membutuhkan pengorbanan danwaktu. Akan ada banyak hal yang menghadang di depan, banyak kerikil – kerikil tajamyang tetap harus kita lewati, banyak jalan berliku yang harus kita lalui, kalautidak hati – hati dalam mengambil keputusan, akan ada jurang yang membuat kitajatuh terperosok didalamnya, kita juga membutuhkan orang lain untuk sekedarbertanya. Tekad dan keyakinan sebagai peran utama. Dan tak lupa selalu ada orangtua dan sahabat yang senantiasa mendorong dan menemani kita.



No comments:

Post a Comment