Selalu Kamu
Di segala gerak ku
Terbesit nama mu
Di setiap langkah ku
Terlintas wajah mu
Di kala pejaman mata ku
Tingginya hayal bersamamu
Di saat tangis ku
Itu karena mu
Di saat sedih ku
Juga karena mu
Kamu ada, kamu hadir, dan selalu kamu
Hati ini berteriak “Iya Kamu”
Tapi semua seakan terbantah oleh logika
Semua terasa terhenti
Tidak sekali ku sebut nama mu diantara kedua tangan ku
Sekedar memohon kepadaNya
Agar Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya
Tidak sekali ku minta kamu datang di mimpiku
Agar kamu juga merasakan apa yang aku rasa
Tidak sekali pula aku bergumam
“Aku Menunggumu”
Wahyu R. Mayangsari
Ungkapan hati yang tak terhingga banyaknya, Ungkapan hati yang tak terbendung artinya, juga ungkapan hati yang tak kunjung berhenti mengungkapkannya melalui coretan indah, dan hanya hati ini yang memahami maknanya :)
Sunday, May 4, 2014
Saturday, May 3, 2014
"Apa Kabar Cinta ?"
oleh : Wahyu .R Mayangsari
Apa kabar kasih ?
hari yang terus brgnti
tak pernah ku ketahui keadaan mu
jarum waktu berputar pelan
tak sedetikpun ku dengar suaramu
Apa kabar sayang ?
setiap matahari terbit
saat it pula ingin ku jumpai
wajahmu disela sinarnya
dikala fajar hendak beranjak
ingin ku kamu hadir dimalam ku
Apa kabar cinta ?
masih adakah aku diingatan mu ?
adakah sedikit rasa rindumu untuk ku ?
disini aku menunggumu dalam DIAM
oleh : Wahyu .R Mayangsari
Apa kabar kasih ?
hari yang terus brgnti
tak pernah ku ketahui keadaan mu
jarum waktu berputar pelan
tak sedetikpun ku dengar suaramu
Apa kabar sayang ?
setiap matahari terbit
saat it pula ingin ku jumpai
wajahmu disela sinarnya
dikala fajar hendak beranjak
ingin ku kamu hadir dimalam ku
Apa kabar cinta ?
masih adakah aku diingatan mu ?
adakah sedikit rasa rindumu untuk ku ?
disini aku menunggumu dalam DIAM
Friday, February 21, 2014
Bersamamu Malam Itu
bercengkerama berduasenda gurau tawa canda
bersandar di teras itu
gelap terasa terang
malam semakin indah
seakan tak mau ada hari esok
seakan ingin malam itu terus bersamamu
tapi mungkin
hanya rasa ini yg menggebu
seakan tak mau ada hari esok
karena esok kau tinggalkan aku disini
seakan terasa lama
takut tak kembali
takut tak kau temui aku lagi
pelukan itu . . .
berharap bukan pelukan terakhir
berharap akan ku rasa lagi nanti
genggaman tangan itu
semakin tak ingin terlepas
satu pinta ku malam itu
agar hatimu tetap terjaga untuk ku
Sampai Pada Akhirnya Ku Bicara
pernah kau berkata
"aku pulang untuk mu"
nyatanya itu tak untuk ku
kamu bersama si cantik
aku diam . . .
kamu bersama si manis
aku diam . . .
kamu bersama si seksi
aku diam . . .
melihat mu bersama mereka
aku tersenyum
tersenyum dibalik tirai pilu
melihatmu bersama mereka
aku bahagia
bahagia yang penuh kebohongan
dan sampai pada akhirnya
kamu tidak bersama mereka
kamu memilih kembali untuk ku
dan aku pun masih tetap diam
diam dengan segala airmata yang tak kau lihat
diam tanpa keputusan
dan tetap seperti biasanya
lantas . . .
lantas kapan bisa aku teriak
teriak diantara deretan tangis ini
deretan tangis yang aku rasakan
sakit memang iya
pedih apalagi
semua terasa kelu
berada dalam sudut kebimbangan
antara perasaan dan logika
dan pada akhirnya ku bicara
"hati ini dulu memang terisi namamu,
namun kini hati ini tidak untuk mu"
"aku pulang untuk mu"
nyatanya itu tak untuk ku
kamu bersama si cantik
aku diam . . .
kamu bersama si manis
aku diam . . .
kamu bersama si seksi
aku diam . . .
melihat mu bersama mereka
aku tersenyum
tersenyum dibalik tirai pilu
melihatmu bersama mereka
aku bahagia
bahagia yang penuh kebohongan
dan sampai pada akhirnya
kamu tidak bersama mereka
kamu memilih kembali untuk ku
dan aku pun masih tetap diam
diam dengan segala airmata yang tak kau lihat
diam tanpa keputusan
dan tetap seperti biasanya
lantas . . .
lantas kapan bisa aku teriak
teriak diantara deretan tangis ini
deretan tangis yang aku rasakan
sakit memang iya
pedih apalagi
semua terasa kelu
berada dalam sudut kebimbangan
antara perasaan dan logika
dan pada akhirnya ku bicara
"hati ini dulu memang terisi namamu,
namun kini hati ini tidak untuk mu"
Saturday, February 8, 2014
My Dream, My Adventure, My Everything
Pagi buta ku buka mata.Bisa dikatakan sang surya masih tertidur atau
mungkin masih menyinari jutaan insan didunia barat. Prepare segala
sesuatunya.
Ku lingkarkan penunjuk waktu di tangan ku, yang pada
dasarnya tidak bisa lepas dari barang itu. kutangkupkan jilbab orange di
leher ku sekedar menutup sedikit aurat ini, agar selalu bersama Rabb ku.
Tak lupa ku tarik switter abu – abu dari tumpukan pakaian usang yang
cukup lama tak terjamah, sekedar memberi kehangatan dari tingginya
derajat dingin yang nanti pasti aku sentuh.
Si hitam
gendut,begitulah aku menjuluki motor pribadi ku. Sebelum benar – benar
ku tancap,pelan – pelan ku putar gas yang notabennya selalu berada di
setir kanan. KataPapi, “biar lebih enak melajunya”. Iya Papi, begitulah
aku memanggil bapak ku.Ibu sama Papi, mereka yang membimbing aku untuk
mencapai segalanya. Mungkintidak hanya aku, tapi kita semua. Kita semua
berfikir secara fakta, sudah tidaklagi menjadi opini “kalau untuk
mencapai segalanya tak luput dari peran orangtua”. Lantas bagaimana
dengan sahabat, memang terkadang kita butuh hadirnyasosok sahabat. Oh my
God, tidak terkadang lagi, tapi sering bahkan selalu butuhsahabat,
teman ataupun soulmate.
Untuk mencapai itu dihari ini,
hari dimana semua ingin ada kebahagiaan dan perubahan. Semua yangawam
dan semua yang mengerti mengatakan kalau hari ini adalah hari sakral,
akanada mara bahaya, aku pun juga percaya atas dasar sebuah buku yang
sebelumnya aku baca, aku tetapcuek tapi senantiasa berdo’a agar Sang
Maha Pelindung melindungi ku dan kitasemua tentunya. Ku jemput sahabat
ku itu yang mungkin masih tertidur pulas diranjang nya, ha ha ha
ternyata tidak, dia sudah cantik dan rapi dengandandanannya.
Dikenakannya blazer coklat, jilbab coklat serta celana jeans
terlihatlebih casual.
Aku dengan dia samadengan KITA.
Keinginan kita sama, saat itupun aku berpacu pada pepatah“kesempatan tak
datang dua kali” tak mau lagi menunda, tak mau lagi mengundurhari esok,
akan ku wujudkan keinginan kita, akan ku buat kau bahagia bersamaku.
Ceileeehh so swet, begitu mungkin anggapan remaja alay.
Papi sudah
mulai injakpedal gigi, aku pun siap memutar roda pelek bintang ini.
Sudah ku rasakanpegangan erat di pinggang ku dari kedua tangan sahabat
ku itu. Si hitam gendut melaju denganidealnya, bentuk separuh bulan yang
tadi terlihat samar – samar, kini benar –benar hilang karenamatahari
sudah menampakkan sinarnya. Keramain kota sudah mulai menghadang
mata,cukup lama tak ku pandangi kota Adipura seperti ini. Jarum
spidometer mungkincapek bergerak naik turun, kurang lebih menunjuk ke
arah 90, cukup kencang dantak permah ku lakukan sebelumnya. Mata
terfokuskan pada hamparan jalan yangtiada ujung dan berjuta lalu lalang
kendaraan lain, kedua tangan berpegang kuatdan mengatur stabilitas
putaran gas. Hati, hhhhmmmmm hati juga ikutberpartisipasi, bahkan
mempunyaikedudukan peran yang sangat penting, berkecumik memanjatkan
do’a pada Sang MahaPelindung. Diiringi dengan guyonan – guyonan sesaat,
gelegar tawa bersamasahabat ku itu seakan bercengkerama dengan suara
bising.
Tibalah di sebuahperkampungan yang sangat asing
bagiku, bahkan hati ku bergumam dengan emosijengkel melihat kerikil –
kerikil tak beraturan, tidak sedikit lho, cukup lamaaku harus
melaluinya. Di depan terlihat expresi bingung di wajah papi dan ibuku,
jupiter merah hitam itu tiba – tiba berhenti di sebuah warung
kecil.Dihadapnya bapak – bapak paruh baya, papi ku sedikit menyodorkan
pertanyaanguna meyakinkan arah perjalanan, karena saat itu kita terjebak
di perempatanyang tak tau harus lurus ataukah belok, belok ke kiri
ataukah ke kanan. Welll??? muncul tanda tanya juga di otak ku. Ternyata
masih lurus, dan aku kembalimelaju mengikuti arah angin yang berlawanan
dengan arah motor ku. Helm unguyang aku kenakan sudah mulai
mengencangkan kepala, terasa pusing dan inginsegera sampai. Huuuuh,
masih butuh beberapa jam pikir ku.
Jeritan ceria
beriringandengan laju motor yang semakin berat untuk berjalan, rasa
kagum itu semakinmembahana, suara obrolan ku dengan sahabat ku yang
tadinya terdengar biasa kinisedikit menggema, sejuk dan semakin dingin,
semua itu ketika ku injak danberdiri di tengah paru – paru dunia, sebuah
kuasa Tuhan yang tak cukup denganhanya di acungi jempol saja.
Sedikitpun tak kusadari kalau jalan yang ku laluisemakin menanjak dan
semakin butuh tenaga untuk memutar gas ini. Hijau,semuanya hijau, sebuah
keindahan yang jarang terlihat oleh mata. Tinggi,semuanya tinggi,
pepohonan itu menjulang, semakin tinggi semakin berdetak pulajantung
ini, berdetak kencang ketika sedikit ku lirik kan mata ke bawah,
akutidak tau apa yang akan terjadi kalau misalkan kedua tangan yang
memegang setirini oleng sedikit saja. Mungkin akan terjatuh ke perosok
jurang itu, oh tidakmungkin lagi, itu sudah pasti.
![]() |
| Wahyoe_Zhia |
Beberapa
pertanyaan wujudkhawatir dari sahabat ku mulai muncul. “yakin akan
meneruskan perjalanan ini?Tidak capek? Di depan masih banyak jalan
berkelok, di depan masih panjang dantanjakan semakin tinggi?”
Celotehsahabat ku sembari mengencangkan pegangan tangannya di pinggang
ku. Aku punmenanggapinya dengan santai, karena pikir ku, disini
pengendarai bukan hanyaaku, kalau mas itu, bapak itu, bisa sampai sana,
aku juga bisa sampai sana.“Tapi kamu cewek, lihat dari tadi yang megang
setir cowok semua, dari tadi yangmendahului jalan kita cowok semua.”
Celoteh sahabat ku lagi. Jalan yang sangatberkelok dan sempit itu memacu
semangat ku untuk segera mencapainya. Kalau orang lain bisamelaluinya,
kenapa aku tidak ?? Disela santainya
laju motor ku, ku jumpai
beberapaorang aneh di penglihatan ku, sarung lebbar itu diikat di
lehernya, tidak bedajauh dengan Jubah Merahnya Superman, hahaha, tapi
mereka bukan Superman, merekaorang – orang yang masih hidup dalam suku,
di daerah ini di kenal dengan SukuTengger. Di depan mungkin Papi sama
Ibu juga mengkhawatirkanku, karena tak sekali dua kali mereka menengok
ke belakang sekedar melihat dantersenyum kepada ku yang masih enjoy
menikmati perjalanan ini.
Kekompakan Papi sama Ibuyang
mengenakan Switter Doreng Korps Marinir membuat aku mudah untuk
memantauketika jarak perjalanan kita semakin jauh. Papi menghentikan
laju motornya, akupun juga menurunkan kaki dari scooter matic ini. Tanda
kita sampai. Bola hitamdi mata ku sedikit melirik ke penunjuk waktu
yang melingkar di pergelangantangan ku, 5 jam aku bersahabat dengan
jalan. Iya sampai, sampai tujuan yangmemang dari awal kita tuju
“Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Senyumbahagia terpancar di paras
Papi sama Ibuku, senyum sumringah juga terlihat dibibir sahabat ku. Hati
ku terasa syahdu melihat mereka yang aku sayangi.Pelukan sederhana
dengan sahabat ku, bisikan kata dari dia di telinga ku, menjadisebuah
penghargaan yang tak ternilai, dua kata itu adalah “Wonder Woman”.
Aku ingin teriak tapi tak bisa, bibir ini terasa kelu.Aku juga ingin
berjingkrak tapi tak bisa, kaki ini terasa kaku, itu karenasaking
bahagianya menatap hamparan alam yang nyata – nyata aku injak. Hawa
dinginseakan menembus ke tulak rusuk paling dalam, aroma tembakau sudah
terlihatmengepul dari bibir Papi ku.
Gagah,amat
teramat gagah. Berdiri diatas daratan dan mengundang banyak decak kagum.
Awanputih nan lembut itu mampu aku sentuh, hanya bisa menggelengkan
kepala bisa mencapaipuncak ini. Dalam hati sempat bergumam, mungkin akan
terasa lebih indah jika kucapainya dengan Pujaan Hati. Ya . . . .
Pujaan Hati yang hingga kini tak tentuarah berlari – larian dalam pusara
hati ku. Sekedar mengabadikan momen, potretsederhana Papi, Ibu sama
sahabat ku semakin menunjukkan sebuah keluarga yangtiada tertandingi
kebahagiannya. You Are My Everithing :*
Dari
panjanglebbarnya cerita yang terurai, seperti itulah gambaran untuk
mencapai mimpi,mecapai puncak keinginan kita, mencapaikesuksesan,
bahkan untuk mencapai segalanya. Semua membutuhkan pengorbanan danwaktu.
Akan ada banyak hal yang menghadang di depan, banyak kerikil – kerikil
tajamyang tetap harus kita lewati, banyak jalan berliku yang harus kita
lalui, kalautidak hati – hati dalam mengambil keputusan, akan ada jurang
yang membuat kitajatuh terperosok didalamnya, kita juga membutuhkan
orang lain untuk sekedarbertanya. Tekad dan keyakinan sebagai peran
utama. Dan tak lupa selalu ada orangtua dan sahabat yang senantiasa
mendorong dan menemani kita.
Tuesday, February 4, 2014
Ayah, Aku ingin bercerita :)
4 Februari 2014 pukul 21:00
Di sudut kegelapan malam ini aq selalu bisa melihat senyum mu, senyum indah dimasalalu yg tak perna lekang oleh waktu, yg tak perna pudar oleh masa.
Ayah, sore ini aq berangkat ke suatu tempat. Ayah pasti ingat sekali dgn tempat ini. tempat dimana aq meraung kesakitan, menangis, bahkan menjerit. yg sampai sekarang masih sering aq rasakan. sebuah tempat dimana ayah menggendong ku, mendekapku, meyakinkan aq kalau semua itu tak akan terasa sakit. "rasanya seperti digigit semut" iya, it yg ayah katakan.
Aq takut dan mulai memejamkan mata agar tak terlihat semua benda itu, dan ketika benda tajam itu mulai bekerja, jerit sakit ku semakin kencang, salah satu alat berbunyi "ngiiiiiinnnnng . . ." itu yang paling aku takuti yah, ternyata rasanya melebihi digigit semut, setelah usai prosesnya, waktu itu Ayah tersenyum dan berkata "kamu pasti bisa melewati semua rasa sakit itu meski harus dengan menangis"
sore ini Lembok berada ditempat itu tanpa Ayah, aq pulang sama ibuk yah, diguyur hujan dibawah gelapnya langit. di Surga sana Ayah pasti mendengar ceritaku kan ???
miss u so much dad :*
Saturday, February 1, 2014
tinta hitam ini tiada henti
menyapu lembut
diatas lembaran putih
lembar demi lembar
penuh coretan sederhana
terbesit dalam lamunan
hadir Jalalludin Rumi
terkadang juga terlintas lewat
pujangga abadi sekelas Chairil Anwar
mereka seakan berbisik
"kenapa tak kau bukukan saja? kenapa tak kau publikasikan karya2 itu?"
dan ketika bangun dari lamunan ku
tak sadar ku jawab tanya mereka
"Tidak, karna aku hanyalah PENULIS DIARY"
menyapu lembut
diatas lembaran putih
lembar demi lembar
penuh coretan sederhana
terbesit dalam lamunan
hadir Jalalludin Rumi
terkadang juga terlintas lewat
pujangga abadi sekelas Chairil Anwar
mereka seakan berbisik
"kenapa tak kau bukukan saja? kenapa tak kau publikasikan karya2 itu?"
dan ketika bangun dari lamunan ku
tak sadar ku jawab tanya mereka
"Tidak, karna aku hanyalah PENULIS DIARY"
Tuesday, September 24, 2013
Sore itu
Sebelum senja pergi
sebelum sore berganti malam
bersama dia yang ku sayang
bergandeng tangan
melangkah
menuju pusara pembaringan mu
kini,
dihening malam ini
dibawah sirat rembulan
aku sendiri disudut ruang ini
ku tadahkan telapak tangan ini
bergumam kepadaNya
agar senantiasa menjagamu
kini,
bersama desir angin
ribuan bintang seakan merangkul ku
membawa ku ke kolong langit itu
dengan harapan
bisa berjumpa dengan mu disana
Sebelum senja pergi
sebelum sore berganti malam
bersama dia yang ku sayang
bergandeng tangan
melangkah
menuju pusara pembaringan mu
kini,
dihening malam ini
dibawah sirat rembulan
aku sendiri disudut ruang ini
ku tadahkan telapak tangan ini
bergumam kepadaNya
agar senantiasa menjagamu
kini,
bersama desir angin
ribuan bintang seakan merangkul ku
membawa ku ke kolong langit itu
dengan harapan
bisa berjumpa dengan mu disana
Subscribe to:
Posts (Atom)





