My Dream, My Adventure, My Everything
Pagi buta ku buka mata.Bisa dikatakan sang surya masih tertidur atau
mungkin masih menyinari jutaan insan didunia barat. Prepare segala
sesuatunya.
Ku lingkarkan penunjuk waktu di tangan ku, yang pada
dasarnya tidak bisa lepas dari barang itu. kutangkupkan jilbab orange di
leher ku sekedar menutup sedikit aurat ini, agar selalu bersama Rabb ku.
Tak lupa ku tarik switter abu – abu dari tumpukan pakaian usang yang
cukup lama tak terjamah, sekedar memberi kehangatan dari tingginya
derajat dingin yang nanti pasti aku sentuh.
Si hitam
gendut,begitulah aku menjuluki motor pribadi ku. Sebelum benar – benar
ku tancap,pelan – pelan ku putar gas yang notabennya selalu berada di
setir kanan. KataPapi, “biar lebih enak melajunya”. Iya Papi, begitulah
aku memanggil bapak ku.Ibu sama Papi, mereka yang membimbing aku untuk
mencapai segalanya. Mungkintidak hanya aku, tapi kita semua. Kita semua
berfikir secara fakta, sudah tidaklagi menjadi opini “kalau untuk
mencapai segalanya tak luput dari peran orangtua”. Lantas bagaimana
dengan sahabat, memang terkadang kita butuh hadirnyasosok sahabat. Oh my
God, tidak terkadang lagi, tapi sering bahkan selalu butuhsahabat,
teman ataupun soulmate.
Untuk mencapai itu dihari ini,
hari dimana semua ingin ada kebahagiaan dan perubahan. Semua yangawam
dan semua yang mengerti mengatakan kalau hari ini adalah hari sakral,
akanada mara bahaya, aku pun juga percaya atas dasar sebuah buku yang
sebelumnya aku baca, aku tetapcuek tapi senantiasa berdo’a agar Sang
Maha Pelindung melindungi ku dan kitasemua tentunya. Ku jemput sahabat
ku itu yang mungkin masih tertidur pulas diranjang nya, ha ha ha
ternyata tidak, dia sudah cantik dan rapi dengandandanannya.
Dikenakannya blazer coklat, jilbab coklat serta celana jeans
terlihatlebih casual.
Aku dengan dia samadengan KITA.
Keinginan kita sama, saat itupun aku berpacu pada pepatah“kesempatan tak
datang dua kali” tak mau lagi menunda, tak mau lagi mengundurhari esok,
akan ku wujudkan keinginan kita, akan ku buat kau bahagia bersamaku.
Ceileeehh so swet, begitu mungkin anggapan remaja alay.
Papi sudah
mulai injakpedal gigi, aku pun siap memutar roda pelek bintang ini.
Sudah ku rasakanpegangan erat di pinggang ku dari kedua tangan sahabat
ku itu. Si hitam gendut melaju denganidealnya, bentuk separuh bulan yang
tadi terlihat samar – samar, kini benar –benar hilang karenamatahari
sudah menampakkan sinarnya. Keramain kota sudah mulai menghadang
mata,cukup lama tak ku pandangi kota Adipura seperti ini. Jarum
spidometer mungkincapek bergerak naik turun, kurang lebih menunjuk ke
arah 90, cukup kencang dantak permah ku lakukan sebelumnya. Mata
terfokuskan pada hamparan jalan yangtiada ujung dan berjuta lalu lalang
kendaraan lain, kedua tangan berpegang kuatdan mengatur stabilitas
putaran gas. Hati, hhhhmmmmm hati juga ikutberpartisipasi, bahkan
mempunyaikedudukan peran yang sangat penting, berkecumik memanjatkan
do’a pada Sang MahaPelindung. Diiringi dengan guyonan – guyonan sesaat,
gelegar tawa bersamasahabat ku itu seakan bercengkerama dengan suara
bising.

Tibalah di sebuahperkampungan yang sangat asing
bagiku, bahkan hati ku bergumam dengan emosijengkel melihat kerikil –
kerikil tak beraturan, tidak sedikit lho, cukup lamaaku harus
melaluinya. Di depan terlihat expresi bingung di wajah papi dan ibuku,
jupiter merah hitam itu tiba – tiba berhenti di sebuah warung
kecil.Dihadapnya bapak – bapak paruh baya, papi ku sedikit menyodorkan
pertanyaanguna meyakinkan arah perjalanan, karena saat itu kita terjebak
di perempatanyang tak tau harus lurus ataukah belok, belok ke kiri
ataukah ke kanan. Welll??? muncul tanda tanya juga di otak ku. Ternyata
masih lurus, dan aku kembalimelaju mengikuti arah angin yang berlawanan
dengan arah motor ku. Helm unguyang aku kenakan sudah mulai
mengencangkan kepala, terasa pusing dan inginsegera sampai. Huuuuh,
masih butuh beberapa jam pikir ku.
Jeritan ceria
beriringandengan laju motor yang semakin berat untuk berjalan, rasa
kagum itu semakinmembahana, suara obrolan ku dengan sahabat ku yang
tadinya terdengar biasa kinisedikit menggema, sejuk dan semakin dingin,
semua itu ketika ku injak danberdiri di tengah paru – paru dunia, sebuah
kuasa Tuhan yang tak cukup denganhanya di acungi jempol saja.
Sedikitpun tak kusadari kalau jalan yang ku laluisemakin menanjak dan
semakin butuh tenaga untuk memutar gas ini. Hijau,semuanya hijau, sebuah
keindahan yang jarang terlihat oleh mata. Tinggi,semuanya tinggi,
pepohonan itu menjulang, semakin tinggi semakin berdetak pulajantung
ini, berdetak kencang ketika sedikit ku lirik kan mata ke bawah,
akutidak tau apa yang akan terjadi kalau misalkan kedua tangan yang
memegang setirini oleng sedikit saja. Mungkin akan terjatuh ke perosok
jurang itu, oh tidakmungkin lagi, itu sudah pasti.
 |
| Wahyoe_Zhia |
Beberapa
pertanyaan wujudkhawatir dari sahabat ku mulai muncul. “yakin akan
meneruskan perjalanan ini?Tidak capek? Di depan masih banyak jalan
berkelok, di depan masih panjang dantanjakan semakin tinggi?”
Celotehsahabat ku sembari mengencangkan pegangan tangannya di pinggang
ku. Aku punmenanggapinya dengan santai, karena pikir ku, disini
pengendarai bukan hanyaaku, kalau mas itu, bapak itu, bisa sampai sana,
aku juga bisa sampai sana.“Tapi kamu cewek, lihat dari tadi yang megang
setir cowok semua, dari tadi yangmendahului jalan kita cowok semua.”
Celoteh sahabat ku lagi. Jalan yang sangatberkelok dan sempit itu memacu
semangat ku untuk segera mencapainya. Kalau orang lain bisamelaluinya,
kenapa aku tidak ?? Disela santainya
laju motor ku, ku jumpai
beberapaorang aneh di penglihatan ku, sarung lebbar itu diikat di
lehernya, tidak bedajauh dengan Jubah Merahnya Superman, hahaha, tapi
mereka bukan Superman, merekaorang – orang yang masih hidup dalam suku,
di daerah ini di kenal dengan SukuTengger. Di depan mungkin Papi sama
Ibu juga mengkhawatirkanku, karena tak sekali dua kali mereka menengok
ke belakang sekedar melihat dantersenyum kepada ku yang masih enjoy
menikmati perjalanan ini.
Kekompakan Papi sama Ibuyang
mengenakan Switter Doreng Korps Marinir membuat aku mudah untuk
memantauketika jarak perjalanan kita semakin jauh. Papi menghentikan
laju motornya, akupun juga menurunkan kaki dari scooter matic ini. Tanda
kita sampai. Bola hitamdi mata ku sedikit melirik ke penunjuk waktu
yang melingkar di pergelangantangan ku, 5 jam aku bersahabat dengan
jalan. Iya sampai, sampai tujuan yangmemang dari awal kita tuju
“Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Senyumbahagia terpancar di paras
Papi sama Ibuku, senyum sumringah juga terlihat dibibir sahabat ku. Hati
ku terasa syahdu melihat mereka yang aku sayangi.Pelukan sederhana
dengan sahabat ku, bisikan kata dari dia di telinga ku, menjadisebuah
penghargaan yang tak ternilai, dua kata itu adalah “Wonder Woman”.
Aku ingin teriak tapi tak bisa, bibir ini terasa kelu.Aku juga ingin
berjingkrak tapi tak bisa, kaki ini terasa kaku, itu karenasaking
bahagianya menatap hamparan alam yang nyata – nyata aku injak. Hawa
dinginseakan menembus ke tulak rusuk paling dalam, aroma tembakau sudah
terlihatmengepul dari bibir Papi ku.

Gagah,amat
teramat gagah. Berdiri diatas daratan dan mengundang banyak decak kagum.
Awanputih nan lembut itu mampu aku sentuh, hanya bisa menggelengkan
kepala bisa mencapaipuncak ini. Dalam hati sempat bergumam, mungkin akan
terasa lebih indah jika kucapainya dengan Pujaan Hati. Ya . . . .
Pujaan Hati yang hingga kini tak tentuarah berlari – larian dalam pusara
hati ku. Sekedar mengabadikan momen, potretsederhana Papi, Ibu sama
sahabat ku semakin menunjukkan sebuah keluarga yangtiada tertandingi
kebahagiannya. You Are My Everithing :*
Dari
panjanglebbarnya cerita yang terurai, seperti itulah gambaran untuk
mencapai mimpi,mecapai puncak keinginan kita, mencapaikesuksesan,
bahkan untuk mencapai segalanya. Semua membutuhkan pengorbanan danwaktu.
Akan ada banyak hal yang menghadang di depan, banyak kerikil – kerikil
tajamyang tetap harus kita lewati, banyak jalan berliku yang harus kita
lalui, kalautidak hati – hati dalam mengambil keputusan, akan ada jurang
yang membuat kitajatuh terperosok didalamnya, kita juga membutuhkan
orang lain untuk sekedarbertanya. Tekad dan keyakinan sebagai peran
utama. Dan tak lupa selalu ada orangtua dan sahabat yang senantiasa
mendorong dan menemani kita.