"Setelah Hujan Pagi Itu"
created By :
Wahyu R. Mayangsari :)
10 Mei 2014 pukul 13:15
Ingin
rasanya aku memutar waktu, waktu yang dulu sebelum mengenal cinta,
hanya mengenal cinta dari orang tua. Tapi apa mungkin itu bisa aku
lakukan ? ah tidak, aku dan kalian yang membaca tulisan ini tidak bisa,
memang tidak akan bisa, kita semua tahu kalau waktu itu terus berjalan.
Ingin
rasanya aku kembali, kembali ke masa yang lalu, masa dimana masih ada
Engkau disamping ku, masih ada Engkau yang memeluk ku, masih ada Engkau
yang menemani hari - hari ku, yang selalu ada di setiap moment - moment
terpenting ku, dan Engkau yang selalu berusaha membuatku bahagia. Semua
itu bisa aku rasakan dimasa dulu, kala aku masih kecil, kala aku masih
remaja. Iya remaja, waktu itu aku mengenal kamu dan aku mulai mengenal
cinta, mulai merasakan rasa yang aneh dan bergejolak di dalam hati.
Kalau
waktu itu aku tahu bagaimana rasanya menjadi dewasa, aku pasti tidak
akan mau menjadi dewasa, aku ingin terus menikmati masa kecil dan remaja
ku bersama Engkau "Bintang Hidup Ku", Bintang yang tidak hanya ada di
langit waktu malam hari, tapi Bintang yang ada disisih ku di waktu apa
pun. Semua yang indah itu seakan terasa berhenti, dan seakan aq tidak
bisa merasakan keindahan lagi. Dan memang iya, setelah Hujan Pagi itu
sampai hari ini aku belum bisa merasakan keindahan yang sesungguhnya.
Setelah
Hujan Pagi itu, aku mulai di pertemukan dengan kedewasaan, mulai
mengerti sebuah arti berkorban dan tidak lagi mementingkan ego. Mulai
dihadapkan pada sebuah keputusan yang teramat berat untuk aku putuskan,
sebuah pemikiran dewasa yang tidak semua gadis mempunyai pemikiran untuk
memutuskan sesuatu seperti itu. Harus memutuskan suatu hal untuk
kebahagiaan dan kebaikan bersama. Setelah Hujan Pagi itu, benar - benar
aku merasakan kesendirian, benar - benar mengetahui mana yang nama nya
Saudara, dan mana yang namanya Teman. Mereka semua mungkin menganggap
aku masih sangat kecil untuk ikut - ikutan masalah seserius itu, tapi
aku tahu, aku tahu semuanya, ada sedikit hak yang harus aku peroleh, dan
nyatanya mereka tak peduli dengan ku. Hahaaha, aku diam dibalik tertawa
ku, aku diam dibalik tangis ku, aku diam dan yakin suatu saat aku bisa
mempunyai itu semua atas usaha ku sendiri tanpa meminta kepada mereka.
Satu lagi, aku diam dan membiarkan mereka menikmati kehidupannya saat
ini, Bintang Hidup ku juga pasti mengetahui apa yang terjadi.
Aku
tidak mau menjadi dewasa, tapi keadaan yang memaksa untuk aku menjadi
dewasa, semua tindakan yang hendak dilakukan harus dipikir dengan logika
dan secara logis, dan lagi - lagi tidak boleh mementingkan kesenangan
ku sendiri. Menjadi dewasa itu beban, setiap tindakan dan perilaku akan
dinilai oleh penonton, menjadi dewasa itu tanggungan, semakin banyak
tangung jawab yang di pegang dan harus diselesaikan. Satu lagi, menjadi
dewasa itu membingungkan, sesuatu yang belum saatnya aku pikirkan tapi
harus menjadi beban pikiran ku dan memaksa aku untuk bisa
menyelesaikannya, membingungkan memang, karena sebagian orang menilai
aku masih seperti anak kecil, padahal sudah sangat banyak suatu hal yang
menuntut aku untuk menjadi dewasa. Singkat saja “kedewasaan seseorang
tidak harus dipaksakan, dan kedewasaan itu akan terlihat ketika dia
menyikapi segala hal yang dihadapinya”

Dan disaat aku
menjadi dewasa, aku tidak lagi melihat Engkau setiap aku membuka mata.
Tapi cahayamu masih sangat bersinar diantara bintang – bintang itu,
Engkau pasti menyaksikan jalan ku di dunia ini, Engkau tak ada lagi
disisih ku tapi Engkau ada di hati ku, dan sampai kapan pun akan tetap
di hati ku.
Aku bersikap lebih dewasa Setelah Hujan Pagi Itu,
hanya diriku dan Tuhan yang tahu setiap langkah dan isi hati ini. Ah,
menyebalkan, bosan, jenuh, ingin aku melawan, tapi ini sudah Takdir dari
Sang Maha Hidup. Berharap dan berusaha untuk mewujudkan keindahan.
Setelah
Hujan Pagi Itu, dan dari sekian panjangnya tulisan ku ini, tidak banyak
yang bisa aku lakukan, mungkin hanya bisa bernyanyi, bernyanyi dalam
hati, hanya aku dan Tuhan yang mendengarnya.
"Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi
Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi"