Friday, March 25, 2016

"Akan ada waktu" 

Ada harapan kecerahan mentari
Membawa cerahnya cinta ku pagi ini
Sederhana saja ...
Hargai rasa rindu ku sebagai kekasih mu
Jangan biarkan rasa rindu ini tersapu angin
Aku diam
Menunggu mu melemparkan senyum
Aku diam
Karna aku teralu takut
Takut untuk menuntut
Takut mengusik dunia mu
Aku diam
Menunggu semua lelah mu hilang
Aku diam walau terabaikan
Tapi aku yakin
Langit tak pernah meninggalkan awan
Akan ada waktu
Untuk bintang bercengkrama dengan bulan

Friday, October 9, 2015

"Teruntukmu Belahan Jiwa ku"

Ini narasi indah sebelum aku kau miliki
Cerita bagai angka 8
yang tiada putus
Hingga awal bertemu dengan akhir

Matahari belum tenggelam
dan cerita ku belum berhenti
Tahukan engkau belahan jiwa ku
Ada rasa yang pernah terpendam sekian tahun
Ada rasa tanpa alasan
Yang tiada pernah aku dapat balasan

Tak lihatkah kau belahan jiwaku
Aku sering menangis tersedu
Menangis tersakiti dan menangis menyakiti
Menangis karena membuang
dan menangis karena terbuang

Pahamilah belahan jiwa ku
Aku pernah menunggu kuncup bunga bermekaran
Tak kunjung mekar durinya menusukku
Aku pernah menyerahkan ketulusan ku
Namun yang ada hinaan menerpa ku
Sebelah mata mereka memandangku

Aku minta ...
Tunggulah aku dengan sabar mu
Hingga aku mampu
menjadi pribadi terbaikmu
Hingga aku pantas
menjadi pembahagiamu
Untuk mu dan orang tua mu

Peluk lah aku nanti
Ketika menjadi kekasih halal mu
Dan narasi indah ini
Berhenti di kamu Belahan Jiwa ku

Wednesday, June 25, 2014



Cinta Ku 
(part one)

Cinta itu sederhana
Sebuah rasa yang dikirimkan tuhan untuk kita
Rasa di dalam hati yang sedetik saja bisa tumbuh
Rasa yang bisa datang dari sekejap pandangan mata
Rasa yang bisa datang dari keseringan berjumpa
Terkadang rasa  cinta juga butuh waktu lama
Cinta juga butuh beradaptasi
Terutama untuk lebih mengenal satu sama lain

Cinta itu sederhana
Kita mencintai tapi tak dicintai
Itu akan menghadirkan ketulusan yang sebenarnya

Kita dicintai tapi tak mencintai
Itu akan lebih mengajarkan kita tentang arti menghargai

Dan mungkin yang paling indah adalah
kita sama – sama mencintai
Disitulah akan banyak rasa, 
saling pengertian, saling percaya, dan 
memberi bentuk perhatian satu  sama lain

Dari segala bentuk cinta itu
semua pasti menghadirkan air mata
Namun diselanya pasti juga terdapat tawa

Saturday, June 21, 2014

"Dan Kamu . . ."

Kunang - kunang dengan cahaya indahnya
Semakin gelap akan semakin indah
Ku ulurkan untuk sekedar menyentuh cahayamu
Dan kamu
Kamu seperti nyala kuning itu
Hadir di tengah petangnya hati ku
Hadir di kala sendu ku
Aku yang saat itu berada ditengah ombak
Seakan terombang - ambing
Kamu yang mendekap ku
Mengajak ku lari dari ombak itu
Memberitahu kalau memang kamu lah penolong ku
Aku yang saat itu berdiri dihamparan luas
Lemah dan terseret oleh angin
Angin kencang yang menjerumuskan ku
Dalam lubang keputus asaan
Dan kamu
Kamu yang memelukku
Menggandeng ku untuk bangkit
Satu lagi
Aku yang saat itu berada diantara banyak cinta
Merasakan banyak kasih sayang
Memandangi banyak hal serta banyaknya pertimbangan
Dan kamu
Kamu yang memegang erat tangan ku
Meyakinkan hati ku
KAMU lah pilihan ku


Wahyu R.Mayangsari

"Setelah Hujan Pagi Itu" 

created By :

Wahyu R. Mayangsari :)

10 Mei 2014 pukul 13:15
Ingin rasanya aku memutar waktu, waktu yang dulu sebelum mengenal cinta, hanya mengenal cinta dari orang tua. Tapi apa mungkin itu bisa aku lakukan ? ah tidak, aku dan kalian yang membaca tulisan ini tidak bisa, memang tidak akan bisa, kita semua tahu kalau waktu itu terus berjalan.

Ingin rasanya aku kembali, kembali ke masa yang lalu, masa dimana masih ada Engkau disamping ku, masih ada Engkau yang memeluk ku, masih ada Engkau yang menemani hari - hari ku, yang selalu ada di setiap moment - moment terpenting ku, dan Engkau yang selalu berusaha membuatku bahagia. Semua itu bisa aku rasakan dimasa dulu, kala aku masih kecil, kala aku masih remaja. Iya remaja, waktu itu aku mengenal kamu dan aku mulai mengenal cinta, mulai merasakan rasa yang aneh dan bergejolak di dalam hati.

Kalau waktu itu aku tahu bagaimana rasanya menjadi dewasa, aku pasti tidak akan mau menjadi dewasa, aku ingin terus menikmati masa kecil dan remaja ku bersama Engkau "Bintang Hidup Ku", Bintang yang tidak hanya ada di langit waktu malam hari, tapi Bintang yang ada disisih ku di waktu apa pun. Semua yang indah itu seakan terasa berhenti, dan seakan aq tidak bisa merasakan keindahan lagi. Dan memang iya, setelah Hujan Pagi itu sampai hari ini aku belum bisa merasakan keindahan yang sesungguhnya.

Setelah Hujan Pagi itu, aku mulai di pertemukan dengan kedewasaan, mulai mengerti sebuah arti berkorban dan tidak lagi mementingkan ego. Mulai dihadapkan pada sebuah keputusan yang teramat berat untuk aku putuskan, sebuah pemikiran dewasa yang tidak semua gadis mempunyai pemikiran untuk memutuskan sesuatu seperti itu. Harus memutuskan suatu hal untuk kebahagiaan dan kebaikan bersama. Setelah Hujan Pagi itu, benar - benar aku merasakan kesendirian, benar - benar mengetahui mana yang nama nya Saudara, dan mana yang namanya Teman. Mereka semua mungkin menganggap aku masih sangat kecil untuk ikut - ikutan masalah seserius itu, tapi aku tahu, aku tahu semuanya, ada sedikit hak yang harus aku peroleh, dan nyatanya mereka tak peduli dengan ku. Hahaaha, aku diam dibalik tertawa ku,  aku diam dibalik tangis ku, aku diam dan yakin suatu saat aku bisa mempunyai itu semua atas usaha ku sendiri tanpa meminta kepada mereka. Satu lagi, aku diam dan membiarkan mereka menikmati kehidupannya saat ini, Bintang Hidup ku juga pasti mengetahui apa yang terjadi.

Aku tidak mau menjadi dewasa, tapi keadaan yang memaksa untuk aku menjadi dewasa, semua tindakan yang hendak dilakukan harus dipikir dengan logika dan secara logis, dan lagi - lagi tidak boleh mementingkan kesenangan ku sendiri. Menjadi dewasa itu beban, setiap tindakan dan perilaku akan dinilai oleh penonton, menjadi dewasa itu tanggungan, semakin banyak tangung jawab yang di pegang dan harus diselesaikan. Satu lagi, menjadi dewasa itu membingungkan, sesuatu yang belum saatnya aku pikirkan tapi harus menjadi beban pikiran ku dan memaksa aku untuk bisa menyelesaikannya, membingungkan memang, karena sebagian orang menilai aku masih seperti anak kecil, padahal sudah sangat banyak suatu hal yang menuntut aku untuk menjadi dewasa. Singkat saja “kedewasaan seseorang tidak harus dipaksakan, dan kedewasaan itu akan terlihat ketika dia menyikapi segala hal yang dihadapinya”

Dan disaat aku menjadi dewasa, aku tidak lagi melihat Engkau setiap aku membuka mata. Tapi cahayamu masih sangat bersinar diantara bintang – bintang itu, Engkau pasti menyaksikan jalan ku di dunia ini, Engkau tak ada lagi disisih ku tapi Engkau ada di hati ku, dan sampai kapan pun akan tetap di hati ku.
Aku bersikap lebih dewasa Setelah Hujan Pagi Itu, hanya diriku dan Tuhan yang tahu setiap langkah dan isi hati ini. Ah, menyebalkan, bosan, jenuh, ingin aku melawan, tapi ini sudah Takdir dari Sang Maha Hidup. Berharap dan berusaha untuk mewujudkan keindahan.
Setelah Hujan Pagi Itu, dan dari sekian panjangnya tulisan ku ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan, mungkin hanya bisa bernyanyi, bernyanyi dalam hati, hanya aku dan Tuhan yang mendengarnya.

"Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi

Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi"
"Rindu Sore Hari"
oleh : Wahyu R.Mayangsari

aku duduk disini
menyaksikan lembaran daun
tersapu oleh angin
sesekali debu menerpa pandanganku
Aku duduk disini sendiri
merasakan rindu sore hari
rindu berbeda yang teramat menggebu
rindu kepadamu
Aku disini bicara sendiri
kepada rumput itu
aku bercerita tentang kerinduan ku
tak peduli ilalang menertawaiku
Aku juga bertanya
bertanya kepada awan sore
kapan aku bisa duduk disini bersamanya
menyaksikan kebersamaan burung menari - nari
menyaksikan layang - layang terbang tinggi
Akupun bertanya kepda lembaian daun
kapan aku bisa duduk disini bersamanya
bercengkerama berdua
mewujudkan rasa rindu sore ini



"Dia Akan Tahu" 
Dia tidak pernah tahu
Tapi suatu saat dia akan tahu
Dia akan tahu
Kalau airmata ini untuknya
Senyum ini juga untuknya
Dia akan tahu
Kalau di sela penantian ini
Ada harapan bunga bermekaran
Kalau di sela kesabaran ini
Ada harapan pelangi akan semakin berwarna
Tuhan . . .
Ijnkan dia mengetahui
Mengetahui isi hati ku
Isi hati yang bertuliskan namanya
Ijinkan dia mengetahui
Mengetahui kehendakku
Yang ingin ku wujudkan bersamanya

Aku Menulis Untuknya

sebenarnya kita dekat
hanya saja tidak untuk sekarang
lalu kapan ?
entahlah . . .
untuk mu diseberang sana
jaga diri . . .
banyak yang menunggumu kembali
untuk mu yang tak pernah ku tatap parasnya
kamu akan melihat senyumku
karena aku akan tersenyum
melihat telapak kaki mu
berhenti sejenak di pintu gubuk itu
untuk kamu yang tak pernah ku dengar suaranya
jika suatu saat tak menjadi sepasang kekasih
hati ini tetap menerima mu
sebagai sahabat dibagian lingkaran hidup ku
sebagai seseorang yang menyayangi ku
untuk kamu yang hadir dalam maya ku
aku bisa merasakan sayang itu
aku bisa mendamba cinta itu
melalui bintang - bintang yang setiap malam menemani lamunan ku
untuk kamu yang sempat datang di mimpi ku
aku menunggu ucapan mu
ucapan diwaktu yang lalu
"aku akan pulang"
untuk kamu di negeri org melayu
satu pesan mu yg tk mgkin ku lupa
dan satu puisi ini yg aku tulis brsma airmta
untuk mu ...

Wahyu R.Mayangsari

Sunday, May 4, 2014

Selalu Kamu

Di segala gerak ku
Terbesit nama mu
Di setiap langkah ku
Terlintas wajah mu
Di kala pejaman mata ku
Tingginya hayal bersamamu
Di saat tangis ku
Itu karena mu
Di saat sedih ku
Juga karena mu
Kamu ada, kamu hadir, dan selalu kamu
Hati ini berteriak “Iya Kamu”
Tapi semua seakan terbantah oleh logika
Semua terasa terhenti
Tidak sekali ku sebut nama mu diantara kedua tangan ku
Sekedar memohon kepadaNya
Agar Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya
Tidak sekali ku minta kamu datang di mimpiku
Agar kamu juga merasakan apa yang aku rasa
Tidak sekali pula aku bergumam
“Aku Menunggumu”

Wahyu R. Mayangsari